Cinta Dalam Do'a, Jadi yang Muda

Reefa adalah santri di Pesantren Fauzan. Gadis yang lembut, tekun, dan cerdas dalam menghafal kitab. Sejak awal, ia mengagumi Ustadz Jhono—sosok alim yang tak hanya berilmu, tapi juga penuh wibawa dan kebaikan hati.

Namun, Ustadz Jhono sudah beristri. Reefa menyadari batasnya sebagai seorang santri, tapi perasaannya tumbuh tanpa bisa ia kendalikan. Setiap kali Ustadz Jhono mengajar, ia berusaha menepis rasa yang kian dalam dengan istighfar dan doa.

“Ya Allah, jika rasa ini salah, hilangkanlah. Jika ini fitrah, jagalah hatiku agar tetap dalam ridha-Mu.”

Suatu hari, perasaan itu terbaca oleh salah satu teman dekatnya, Nadira.

“Kamu jatuh cinta pada Ustadz Jhono, ya?” tanyanya hati-hati.

Reefa terkejut, tapi akhirnya mengangguk pelan. “Aku tahu ini tak seharusnya, tapi aku tak bisa bohong pada hatiku.”

Waktu berlalu, dan kabar bahwa keluarga Ustadz Jhono sedang membuka peluang poligami mulai tersebar. Tidak ada santri yang menyangka, termasuk Reefa sendiri. Hingga suatu hari, ustadzah di pesantren memanggilnya.

“Reefa, Ustadz Jhono ingin menikah lagi, dan beliau telah meminta pendapat para kyai. Namamu termasuk yang diusulkan.”

Jantungnya berdegup kencang. Ini bukan sekadar impian, tapi kenyataan yang harus ia pertimbangkan dengan matang.

Setelah beristikharah dan berdiskusi dengan keluarganya, Reefa akhirnya menerima lamaran itu. Pernikahan sederhana digelar di pesantren dengan restu dari istri pertama Ustadz Jhono.

Sebagai istri muda, Reefa harus menghadapi ujian baru: berbagi suami, menjaga hati agar tetap ikhlas, dan merawat perasaan agar tak mengusik ketentraman rumah tangga. Namun, ia yakin bahwa cinta sejati bukan sekadar memiliki, melainkan berkorban dan ridha pada takdir-Nya.

Dan dalam sujud malamnya, ia selalu berdoa, “Ya Allah, jagalah rumah tangga ini dalam keberkahan-Mu.

0 Komentar

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama