Biografi
Aceng Mumu Muhammad, S.Pd.I., M.Pd.
Prakata
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulisan buku biografi ini dapat tersusun dengan baik. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjunan alam Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Buku ini merupakan catatan perjalanan hidup seorang putra pesantren yang tumbuh dalam lingkungan keilmuan, pengabdian, dan perjuangan. Sosok beliau dikenal sebagai pendidik, penggerak dakwah, organisatoris, dan pengabdi masyarakat yang istiqamah menjaga tradisi keilmuan Islam di tengah perkembangan zaman.
Perjalanan hidup beliau bukanlah kisah tentang kemewahan dan gemerlap dunia, melainkan kisah tentang seorang santri yang tumbuh dari kesederhanaan, ditempa oleh perjuangan, dan berjalan perlahan menapaki jalan pengabdian. Setiap langkah kehidupannya dipenuhi ketekunan dalam menuntut ilmu, kesabaran dalam menghadapi berbagai ujian, serta keikhlasan dalam mengabdi kepada agama, pendidikan, dan masyarakat. Dari lingkungan pesantren di pelosok Garut, beliau tumbuh menjadi sosok yang aktif di dunia pendidikan, organisasi, dan dakwah masyarakat.
Semoga buku sederhana ini dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, para santri, para pendidik, dan masyarakat luas tentang pentingnya ilmu, akhlak, perjuangan, dan pengabdian.
BAB I
JEJAK KELAHIRAN DAN NASAB KELUARGA
Di kaki pegunungan Garut Selatan yang sejuk dan dikelilingi hamparan alam yang indah, berdiri sebuah lingkungan pesantren sederhana yang sarat dengan nilai-nilai keagamaan dan tradisi keilmuan Islam. Di tempat itulah perjalanan hidup seorang anak kampung yang kelak dikenal sebagai pendidik dan penggerak dakwah dimulai.
Beliau lahir pada hari Sabtu, 13 Desember 1986 Masehi, bertepatan sekitar 11 Rabiul Akhir 1407 Hijriah, pukul 09.00 WIB. Tempat kelahirannya berada di rumah keluarga yang terletak di Komplek Pesantren Bidayatul Faizin, Kampung Babakan Negla RT 01 RW 04 Desa Cipangramatan Kecamatan Cikajang Kabupaten Garut.
Nama lengkap beliau adalah Aceng Mumu Muhammad, S.Pd.I., M.Pd. Sejak kecil beliau lebih akrab dipanggil Ceng Mumu oleh keluarga, para santri, sahabat, dan masyarakat sekitar.
Beliau merupakan putra dari pasangan KH. Aceng Umar Ishak dan Hj. Iip Rif’ah. Ayah beliau dikenal sebagai sosok ulama pesantren yang tekun mendidik santri serta istiqamah menjaga tradisi keilmuan Islam. Sedangkan ibunda beliau merupakan sosok perempuan sederhana yang penuh kasih sayang, kesabaran, dan keteguhan dalam mendidik keluarga.
Lingkungan tempat beliau tumbuh bukanlah lingkungan perkotaan yang dipenuhi hiruk-pikuk modernitas. Masa kecil beliau diwarnai suasana pesantren yang sederhana, suara lantunan ayat Al-Qur’an, pengajian kitab kuning, adzan yang berkumandang dari surau kecil, serta aktivitas santri yang tidak pernah berhenti sejak pagi hingga malam.
Sejak kecil beliau telah terbiasa melihat kehidupan para santri yang bangun sebelum subuh, mengaji selepas shalat, belajar adab kepada guru, dan hidup dalam kesederhanaan. Tanpa disadari, suasana itu membentuk karakter beliau menjadi pribadi yang dekat dengan agama dan menghormati ilmu.
Masa kecil beliau tidak jauh berbeda dengan anak-anak kampung lainnya. Beliau bermain di halaman pesantren, berlarian di jalanan desa, membantu pekerjaan keluarga, dan sesekali ikut membersihkan lingkungan pesantren. Namun di balik kesederhanaan itu, tertanam kuat pendidikan akhlak dan disiplin dari kedua orang tua.
Ayah beliau dikenal sebagai sosok yang tegas dalam mendidik. Setiap anak diajarkan untuk menghormati ilmu dan ulama. Sedangkan ibunda beliau mengajarkan pentingnya kesabaran, keikhlasan, dan kelembutan hati.
Dari lingkungan keluarga inilah tumbuh kecintaan beliau terhadap dunia pendidikan dan dakwah.
BAB II
MASA KECIL DI LINGKUNGAN PESANTREN
Masa kecil beliau merupakan masa yang penuh warna dan kenangan sederhana. Hidup di lingkungan pesantren membuat beliau akrab dengan kehidupan santri sejak usia dini.
Ketika anak-anak lain sibuk bermain tanpa arah, beliau telah terbiasa mendengar kajian kitab, hafalan doa-doa, dan nasihat-nasihat agama dari para guru serta orang tua. Setiap hari beliau menyaksikan para santri datang silih berganti untuk menimba ilmu.
Suasana pesantren menjadi sekolah pertama bagi kehidupan beliau. Dari pesantren itulah beliau belajar menghormati guru, mencintai ilmu, dan memahami arti perjuangan hidup.
Beliau dikenal sebagai anak yang aktif dan mudah bergaul. Meski tumbuh di lingkungan agama yang disiplin, beliau tetap menjalani masa kecil sebagaimana anak-anak seusianya. Bermain layangan, bermain di sawah, membantu kegiatan pesantren, hingga mengikuti aktivitas masyarakat menjadi bagian dari keseharian beliau.
Namun di balik sifat aktifnya, beliau memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Beliau senang memperhatikan para ustaz mengajar dan mendengarkan percakapan-percakapan tentang ilmu agama.
Sejak kecil beliau mulai belajar dasar-dasar agama secara langsung dari ayahandanya sendiri. Pendidikan pertama yang beliau dapatkan adalah adab sebelum ilmu. Beliau diajarkan untuk menghormati orang tua, menghormati guru, menjaga ucapan, dan hidup sederhana.
Masa kecil beliau juga dibentuk oleh kehidupan masyarakat desa yang penuh kebersamaan. Gotong royong, kerja bakti, pengajian kampung, dan kegiatan sosial menjadi pemandangan yang akrab.
Pengalaman hidup sederhana inilah yang membentuk beliau menjadi pribadi yang dekat dengan masyarakat hingga dewasa.
BAB III
MENEMPUH PENDIDIKAN DASAR
Perjalanan pendidikan formal beliau dimulai di SDN Cipangramatan II. Sekolah tersebut menjadi tempat awal beliau mengenal pendidikan umum secara lebih luas.
Di sekolah dasar, beliau dikenal sebagai murid yang aktif dan mudah bersosialisasi. Para guru melihat beliau sebagai anak yang memiliki semangat belajar tinggi dan cepat beradaptasi.
Beliau mendapatkan bimbingan dari para guru yang berjasa dalam membentuk karakter dan semangat belajar beliau, di antaranya:
- Ibu Hj. Euis Karyati Hidayatullah
- Bapak Rosim Ayukman, S.Pd.
- Bapak Santoso, S.Pd.
- Bapak H. Isak
- Bapak Tata
- Bapak Asep
Selain belajar mata pelajaran umum, beliau tetap aktif belajar agama di lingkungan pesantren. Pagi hari digunakan untuk sekolah formal, sedangkan sore dan malam hari dipenuhi kegiatan mengaji.
Kehidupan seperti itu melatih beliau untuk disiplin membagi waktu. Tidak mudah menjalani dua lingkungan pendidikan sekaligus, tetapi beliau menjalaninya dengan penuh kesungguhan.
Masa sekolah dasar menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter kepemimpinan beliau. Beliau mulai belajar bertanggung jawab, berani tampil di depan umum, dan aktif dalam berbagai kegiatan.
Para guru melihat beliau sebagai pribadi yang santun dan mudah diarahkan. Meski hidup sederhana, beliau memiliki semangat besar untuk terus belajar.
BAB IV
MENJADI SANTRI DAN PELAJAR
Memasuki usia remaja, perjalanan pendidikan beliau semakin serius. Beliau melanjutkan pendidikan di SMP Fauzaniyyah.
Di masa SMP inilah karakter kepemimpinan beliau mulai terlihat lebih jelas. Beliau aktif dalam kegiatan sekolah dan dipercaya menjadi Ketua OSIS.
Amanah tersebut menjadi pengalaman penting yang melatih jiwa organisasi dan kepemimpinan beliau sejak dini.
Beliau mendapatkan banyak pelajaran hidup dari para guru di SMP Fauzaniyyah, di antaranya:
- H. Ahmad Hanafiah, M.Pd.
- Hj. Wawa Rahmawati, S.Pd.
- Hj. Ela, S.Ag.
- Ibu Neni
- Bapak Cece Mulyadi
- Bapak Engkus
- Hj. Nyimas Lia Nurwaliah
- Bapak Reza
- Bapak Undang Sumpena
Masa SMP menjadi fase pembentukan jati diri beliau. Selain belajar ilmu pengetahuan, beliau mulai memahami pentingnya organisasi, tanggung jawab, dan pengabdian.
Di tengah aktivitas sekolah, beliau tetap menjalani pendidikan pesantren. Hari-harinya dipenuhi kegiatan belajar dari pagi hingga malam. Namun kelelahan tidak pernah memadamkan semangat beliau.
Beliau dikenal aktif membantu kegiatan pesantren dan dekat dengan para santri.
BAB V
MENAPAKI MASA SMA
Setelah menyelesaikan pendidikan SMP, beliau melanjutkan pendidikan di SMAN 1 Bayongbong yang kemudian dikenal juga sebagai SMAN 19 Garut.
Lingkungan SMA mempertemukan beliau dengan dunia yang lebih luas. Beliau mulai mengenal berbagai pemikiran, organisasi, dan aktivitas sosial yang lebih beragam.
Meski berada di sekolah umum, beliau tetap mempertahankan identitas sebagai santri.
Beliau mendapatkan bimbingan dari banyak guru yang berjasa dalam perjalanan pendidikan beliau:
- Bapak Ayi
- Ibu Enung Ratna Komasih
- Ibu Yuli
- Ibu Ikeu
- Ibu Apong
- Ibu Iceu Juiceu
- Bapak Bahrul Hayat
- Bapak Tatang
- H. Opang Saepurohman
- H. Dedi
- Bapak Zein
- Bapak Gun-gun
- Bapak Undang
Pada masa SMA, beliau aktif dalam kegiatan Pramuka dan dipercaya menjadi pengurus bidang keagamaan Bantara Pramuka.
Pengalaman organisasi tersebut semakin memperkuat jiwa kepemimpinan dan kemampuan sosial beliau.
Beliau mulai terbiasa berbicara di depan umum, memimpin kegiatan, dan membangun komunikasi dengan banyak orang.
Di masa inilah beliau semakin menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang mencari kesuksesan pribadi, tetapi juga tentang memberikan manfaat bagi orang lain.
BAB VI
MENUNTUT ILMU DI DUNIA PESANTREN
Perjalanan keilmuan beliau tidak hanya ditempuh melalui pendidikan formal. Dunia pesantren menjadi bagian paling penting dalam hidup beliau.
Beliau menimba ilmu di Pesantren Bidayatul Faizin di bawah asuhan:
- KH. Aceng Umar Ishak
- KH. Aceng Nunur Nasrul Qodir, S.Pd.I.
- Aceng Zaki Zakaria
- Aceng Opik Umar Faruq
Dari pesantren tersebut beliau belajar dasar-dasar ilmu agama, akhlak, serta kehidupan santri.
Kemudian beliau melanjutkan perjalanan keilmuan ke Pesantren Fauzan dan belajar kepada banyak ulama, di antaranya:
- KH. Aceng Muhammad
- KH. Aceng Aam Umar A’lam
- KH. Aceng Muhammad Ali
- KH. Aceng Dudum Husein Abdussalam
- KH. Aceng Muhammad Hasan
- KH. Aceng Aup Mustofal Fauzi
- KH. Aceng Aip Mukhtar Fauzi
- KH. Aceng Abdul Mujib
- KH. Aceng Hilman Umar Bashori
- KH. Aceng Aum Umar Fahmi
Di pesantren inilah beliau semakin mendalami ilmu-ilmu agama, khususnya kajian kitab kuning, fiqih, akhlak, dan tradisi keilmuan pesantren.
Beliau juga belajar di Pesantren Riyadlul Alfiyah Sadang di bawah asuhan KH. Rd. Iip Syarif Hidayatullah.
Selanjutnya beliau menimba ilmu di Pesantren Al-Ashriyah Nurul Iman di bawah asuhan Syaikh Alhabib Saggaf bin Mahdi BSA.
Tidak berhenti di sana, beliau juga belajar di Pesantren Salaman di bawah asuhan KH. Drs. Atjeng Abdul Wahid.
Perjalanan dari satu pesantren ke pesantren lain memberikan pengalaman hidup yang sangat berharga bagi beliau.
Beliau belajar bahwa ilmu tidak hanya diperoleh dari buku, tetapi juga dari adab, keteladanan guru, dan perjuangan hidup.
BAB VII
PERJUANGAN DI DUNIA KULIAH
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, beliau melanjutkan pendidikan tinggi di STAI Yamisa Bandung pada Jurusan Pendidikan Agama Islam.
Masa kuliah menjadi babak baru dalam perjalanan hidup beliau. Kehidupan mahasiswa mempertemukan beliau dengan berbagai pemikiran dan pengalaman organisasi yang lebih luas.
Di bangku kuliah, beliau dikenal aktif dan mudah bergaul.
Beliau dipercaya menjadi Sekretaris Badan Eksekutif Mahasiswa. Amanah tersebut semakin melatih kemampuan administrasi, komunikasi, dan kepemimpinan beliau.
Meski aktif berorganisasi, beliau tetap serius dalam menempuh pendidikan.
Beliau menyadari bahwa ilmu adalah modal utama dalam perjuangan hidup.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, beliau melanjutkan pendidikan Magister di STKIP Garut yang kini dikenal sebagai IPI Garut pada Jurusan Teknologi Pendidikan.
Pilihan tersebut menunjukkan perhatian beliau terhadap dunia pendidikan dan perkembangan metode pembelajaran.
Beliau memahami bahwa pendidikan harus terus berkembang mengikuti zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai agama dan akhlak.
BAB VIII
MENEKUNI DUNIA BELADIRI
Selain aktif di dunia pendidikan dan pesantren, beliau juga memiliki ketertarikan terhadap dunia bela diri.
Beliau belajar di Paguron Putra Jatinagara di bawah asuhan:
- KH. Aceng Baban Shohibul Bayan
- KH. Aceng Nunur N.Q.
- KH. Aceng Muhammad Hasan
- KH. Aceng Aip Mukhtar Fauzi
- Aceng Aub Abdurrozaq
- Aceng Opik Umar Faruq
Dari dunia bela diri, beliau belajar tentang kedisiplinan, keberanian, pengendalian diri, dan tanggung jawab.
Beliau juga mengikuti KKI (Kushinryu Karatedo Indonesia) hingga tingkat sabuk kuning.
Bagi beliau, bela diri bukan hanya tentang kekuatan fisik, tetapi juga pembentukan mental dan akhlak.
BAB IX
MEMBANGUN RUMAH TANGGA
Pada tanggal 06 April 2015, beliau menikah dengan Nyimas Rimah Karimatul Hayah.
Pernikahan tersebut menjadi awal perjalanan baru dalam kehidupan beliau sebagai suami dan kepala keluarga.
Rumah tangga beliau dibangun di atas nilai-nilai agama, kesederhanaan, dan saling mendukung dalam perjuangan.
Allah SWT kemudian menganugerahkan putri-putri yang menjadi kebahagiaan keluarga:
- Nyimas Faroh Farhatul Kamylah, lahir 16 Februari 2016
- Nyimas Faula Fauziyatul Aliyah, lahir 1 Desember 2018
- Nyimas Farda Faridatul Khoiriyah
Sebagai ayah, beliau dikenal penuh perhatian terhadap pendidikan dan akhlak anak-anaknya.
Beliau meyakini bahwa keluarga adalah madrasah pertama bagi anak-anak.
BAB X
MENGABDI DI DUNIA PENDIDIKAN
Perjalanan pengabdian beliau di dunia pendidikan dimulai dengan menjadi guru.
Beliau kemudian dipercaya menjadi Kepala SMP Tarbiyatul Aulad Fauzan Lima sejak tahun 2015 hingga sekarang.
Amanah tersebut dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi.
Beliau berusaha membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan akhlak.
Selain menjadi kepala sekolah, beliau juga aktif sebagai dosen di STIEBs NU Garut.
Di lingkungan pesantren, beliau turut mengajar di PP. Salaman Fauzan Tiga.
Bagi beliau, mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari dakwah dan pengabdian.
Beliau percaya bahwa ilmu yang diajarkan dengan keikhlasan akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
BAB XI
AKTIF DI ORGANISASI DAN KEUMATAN
Selain aktif di dunia pendidikan, beliau juga aktif di berbagai organisasi keagamaan.
Beliau dipercaya menjadi Wakil Sekretaris PCNU Garut periode 2020–2025 dan berlanjut hingga sekarang.
Beliau juga dipercaya menjadi Wakil Sekretaris MUI Kecamatan Sukaresmi sejak tahun 2025.
Kepercayaan tersebut menjadi bukti bahwa beliau dikenal sebagai pribadi yang amanah dan mampu bekerja sama dengan banyak pihak.
Di organisasi, beliau dikenal sebagai sosok yang tenang, komunikatif, dan mampu menjaga hubungan baik dengan berbagai kalangan.
Beliau memahami bahwa organisasi adalah sarana perjuangan dan pengabdian untuk umat.
BAB XII
DAKWAH DAN PENGABDIAN MASYARAKAT
Di tengah kesibukannya sebagai pendidik dan organisatoris, beliau tetap aktif berdakwah di tengah masyarakat.
Beliau membantu mengisi pengajian rutin di Majelis Ta’lim Salaman.
Selain itu, beliau juga rutin mengisi pengajian bulanan di berbagai daerah sekitar Garut.
Ceramah beliau dikenal sederhana, mudah dipahami, dan dekat dengan kehidupan masyarakat.
Beliau sering menyampaikan pentingnya akhlak, pendidikan, persatuan umat, dan penguatan nilai-nilai keislaman.
Masyarakat mengenal beliau sebagai sosok yang ramah dan mudah bergaul.
Beliau tidak membatasi diri hanya di lingkungan pesantren atau pendidikan formal, tetapi hadir langsung di tengah masyarakat.
BAB XIII
NILAI HIDUP DAN PRINSIP PERJUANGAN
Dalam perjalanan hidupnya, beliau memegang beberapa prinsip yang menjadi pegangan hidup.
Pertama, pentingnya ilmu dan adab.
Beliau meyakini bahwa ilmu tanpa adab akan kehilangan keberkahan.
Kedua, pentingnya pengabdian.
Bagi beliau, hidup yang baik adalah hidup yang memberi manfaat bagi orang lain.
Ketiga, menjaga tradisi pesantren.
Beliau percaya bahwa pesantren memiliki peran besar dalam menjaga moral dan akhlak masyarakat.
Keempat, istiqamah dalam perjuangan.
Beliau memahami bahwa perjuangan hidup tidak selalu mudah. Namun keteguhan hati dan kesabaran akan membawa seseorang menuju keberkahan.
BAB XIV
KESAN DAN PANDANGAN MASYARAKAT
Bagi masyarakat sekitar, beliau dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan mudah berinteraksi.
Beliau tidak membangun jarak dengan masyarakat.
Dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan, beliau hadir dengan sikap rendah hati.
Para santri mengenal beliau sebagai guru yang sabar dan dekat dengan murid.
Rekan organisasi mengenal beliau sebagai sosok yang tenang dan mampu bekerja sama.
Sedangkan masyarakat melihat beliau sebagai tokoh muda yang aktif membangun pendidikan dan dakwah.
BAB XV
PENUTUP
Perjalanan hidup Aceng Mumu Muhammad, S.Pd.I., M.Pd. merupakan kisah tentang kesederhanaan, perjuangan, dan pengabdian.
Beliau tumbuh dari lingkungan pesantren yang sederhana, menempuh perjalanan panjang dalam pendidikan, aktif di organisasi, serta mengabdikan diri di dunia pendidikan dan dakwah.
Kehidupan beliau menunjukkan bahwa kesuksesan sejati bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi tentang manfaat yang dapat diberikan kepada masyarakat.
Dari pesantren kecil di pelosok Garut, beliau terus melangkah membawa nilai-nilai ilmu, akhlak, dan pengabdian.
Semoga perjalanan hidup beliau menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus belajar, berjuang, menjaga akhlak, serta mengabdikan diri bagi agama, bangsa, dan masyarakat.
EPILOG
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, sosok-sosok pengabdi seperti beliau menjadi bagian penting dalam menjaga nilai dan tradisi.
Beliau bukan hanya seorang guru, bukan hanya seorang organisatoris, dan bukan hanya seorang penceramah.
Beliau adalah representasi dari perjuangan panjang seorang santri yang terus menjaga ilmu dan pengabdian.
Langkah beliau mungkin sederhana, namun jejak pengabdiannya akan terus hidup dalam ingatan para murid, masyarakat, dan orang-orang yang pernah belajar bersama beliau.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, keberkahan umur, keluasan ilmu, dan kemuliaan hidup kepada beliau serta keluarga.
Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin.
Posting Komentar